FORUM PENGAJIAN QUR'AN HADITS

"Kami hanya ingin menegakkan nilai-nilai Al-Quran dan Al-Hadits"
cbox

Minggu, 23 Maret 2014

Kesucian "thoharoh" tahun 1960

Tahun 1960 an jamaahnya KH Nurhasan terkenal sangat extreme terkait kesucian, mereka menganggap selain org jamaah adalah NAJIS krn mereka HUM tidak tahu dan tak bisa menerapkan hukum sesuci/thoharoh.
Bahkan saking mutawari'nya, jamaah tidak mau bersalaman dg orang HUM krn dianggap najis, kalo naik angkot jamaah membawa koran utk dijadikan alas saat duduk agar tdk najis, kalo ada tamu org HUM kursinya di lap lagi, masjid jamaah selalu di pel setelah dipakai sholat org HUM, atau pakaian jamaah yg dipegang org tuanya yg blm jamaah dianggap najis dan dicuci lagi, dan banyak contoh lainnya.
Itu dulu, strategi babat alas di jamannya.
Saat ini seharusnya tidak ada lagi yg begitu, yg penting kita tidak melihat sendiri bahwa itu najis, ya berarti suci.
Jangan hanya pake ro'yu bahwa semua yg terkait dg org HUM itu najis, itu pemahaman yg salah.
Karna bisa menjadi was-was, bukan mutawari' lagi jadinya.
Sebenarnya dulu saat tahun 1960 an KH Nurhasan telah mencontohkan agar jamaah tetep mutawari' tapi bukan was-was, ceritanya kira2 begini:
"Suatu saat KH Nurhasan dalam sebuah perjalanan dg beberapa jamaah, ditengah perjalanan KH Nurhasan mampir di masjid HUM utk solat. Salah satu jamaah yg ikut berbisik pd KH Nurhasan: abah, kenapa kita sholat di masjidnya org HUM ? Gimana kalo disini najis, bukankah sholat kita ga akan diterima karna ga sah ?. Lalu oleh KH Nurhasan dijawab singkat: lha gimana kalo masjid ini suci ?. Akhirnya mereka sholat dimasjid itu."
Hikmah dari cerita KH Nurhasan ini adalah jika kita tidak melihat langsung bahwa disitu najis, ya kembalikan ke hukum asal bahwa bumi-nya Allah SWT itu suci dan bisa utk dijadikan tempat sholat.
Kalo kita melihat secara langsung disitu ada sesuatu yg najis atau kita melihat kondisi jeding yg tdk memenuhi syarat utk menjaga kesucian atau sebab lainnya yg memungkinkan kita meyakini bahwa disitu rentan najis, ya kita boleh utk mengurungkan niat utk sholat disitu, pindah aja ke tempat yg lebih meyakinkan kesuciannya.
Lha kalo kita terlalu was-was dan hanya menganggap tempatnya jamaah yg terbebas dr najis, maka kita akan tersiksa sendiri.
Gimana tidak, kita lihat di Masjidil Harom, di Masjid Nabawi, dll. Disana tidak ada bak air di jeding yg minimal 2 kullah, tp hanya memakai selang kecil yg mengalir dr kran.
Toiletnya juga jenis jongkok.
Apalagi orang arab suka pake sepatu, bagaimana bisa menjaga kesucian ?
Lalu apakah kita ga mau sholat di Masjidil Harom dan Masjid Nabawi ?
Maka kita akan dheblek sendiri karna terlalu was-was.
Makanya Rosulullah SAW menyampaikan hadits bab sesuci yaitu 3 langkah dibumi akan menghapus najis yg menempel.
Ini bentuk kemurahan bagi orang iman.
Jadi saat ini sudah bukan jamannya lagi was-was berlebihan, mutawari' harus, tapi tetap dalam koridor hukum Quran Hadits.
Kalo masih was-was berlebihan, maka bagaimana kita menyikapi makanan yg kita beli dr tukang bakso, apa kita juga akan anggap najis makanan di depot/warung? atau kita juga akan anggap semua produk dr org selain jamaah itu najis tanpa melihat secara langsung? Kalo masih dianggap najis, maka berarti kita memakan makanan yg najis dan berarti harom, maka daging kita juga akan harom, dan tubuh yg harom ga bisa masuk syurga.
Apakah begitu pemahaman yg akan kita pake ? Tentu tidak, karna kita tahu hukum dari Quran Hadits.
Semoga semua jamaah tetap mutawari' pd kesucian tapi tidak was-was buta tanpa dasar..
Wallohu a'lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Alhamdulilah Jaza Kumullohu Khoiro , Atas Komentarnya Semoga Alloh Paring aman, selamat, lancar, berhasil, barokah...!